Home
Up

"BANDARKARIMA rumah berdinding cinta
  tiangnya kemesraan persaudaraan
  atapnya kasih sayang kemanusiaan
  dasarnya pengabdian kepada Tuhan"
("BANDARKARIMA, the home wall up with love
the pillar is intimate brotherhood
the roof is love and affection for humanity
the base is dedication to God")

Background History

Perguruan Seni Pencak BANDARKARIMA memadukan tiga aliran utama yang sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan pencak silat di Jawa Barat, yaitu Sabandar, Kari, dan Madi.

Untuk mengetahui asal-usul ketiga aliran tersebut di atas, berikut ini akan dipaparkan cerita yang sudah menjadi sejarah di kalangan pendekar Jawa Barat.

Raden H. Ibrahim  (1816~1906) berasal dari Cikalong, Cianjur, sekitar 120 KM dari Jakarta. Beliau dikenal berwatak keras dan memiliki keberanian yang besar. Posturnya 'pendekar', pendek dan kekar. Raden H. Ibrahim memiliki dasar maempok atau pencak yang ia peroleh dari Raden Ateng Alimudin.

Raden Ateng Alimudin merupakan pendekar yang disegani di Kampung Baru, dan menjabat sebagai kepala keamanan distrik Jatinegara. Beliau merupakan guru pertama sekaligus saudara misan (suami kakak perempuan) dari Raden H. Ibrahim.

Guru kedua Raden H. Ibrahim adalah Abang Ma'ruf dari Karet, Tanah Abang. Abang Ma'ruf adalah salah seorang guru pencak yang tersohor di Batavia. Permainan pencaknya memiliki ciri sangat sulit disentuh lawan dan selalu meliuk sambil menendang. Setiap pertunjukan selalu melumpuhkan lawannya.

Secara kebetulan Raden H. Ibrahim bertemu dengan Abang Madi, seorang pendekar besar yang selalu menutup diri namun namanya tetap termashur di masyarakat. Raden H. Ibrahim kagum dengan ketangkasan dan kekuatan permainan pencak silat Abang Madi, dan mengangkatnya menjadi guru ketiga.

Mengikuti saran guru-gurunya, Raden H. Ibrahim kemudian berguru ke Abang Kari dari Benteng, Tangerang untuk menyempurnakan ilmu maempoknya. Ciri permainan Kari adalah gerakan kaki yang lincah serta serangan tangan yang cepat dan beruntun.

Berbekal empat permainan maempok tersebut, Raden H. Ibrahim mengajarkannya ke saudara-saudaranya di Cikalong.  Murid pertamanya adalah Raden H. Enoh. Setelah menyelesaikan berguru maempok, Raden H. Enoh kemudian berguru ke Mama' Sabandar dari kampung Sabandar, Cianjur.

Mama' Sabandar yang bernama asli Mohammad Kosim adalah seorang pendekar tangguh dari Pagaruyung, Sumatra Barat. Beliau diusir dari Pagaruyung karena mengajarkan pencak silat kepada orang diluar lingkungan keluarganya. Mohammad Kosim kemudian merantau ke Jawa dan akhirnya menetap di Kampung Sabandar, sehingga lebih dikenal dengan panggilan Mama' Sabandar. Mama' Sabandar mengajarkan teknik pencak silat yang disesuaikan dengan kondisi fisik murid-muridnya. Murid bertubuh besar dan kuat diberi teknik menyerang dengan kekuatan tubuh, sementara murid dengan fisik lemah diberi teknik lemah lembut yang mengutamakan teknik menghindar dan menyerang titik lemah lawan.

Setelah menguasai pencak Sabandar, Raden Enoh memadukannya dengan ilmu maempok dari Raden H. Ibrahim dan mengajarkannya ke seluruh keluarga bangsawan Cianjur. Sejak itu pencak silat Cikalong dan Sabandar mulai terkenal dikalangan pendekar, dan menyebar ke seluruh Jawa Barat.

 

Bandarkarima Development

Bandarkarima Today

 

Home ] Up ]

Send mail to editor@bandarkarima.com with questions or comments about this web site.
Copyright © 2001 Perguruan Seni Pencak Bandarkarima